Langsung ke konten utama

Bahu Membahu Tanpa Pamrih

 Oleh: Sofyan 

Dalam kehidupan sehari-hari seorang petani desa tentunya lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengarap sawah, tetapi dalam kegiatan kemasyarakatan mereka tidak akan pernah lupa dengan yang namanya gotong royong. Gotong royong merupakan kegiatan bersama-sama saling membantu dari elemen masyarakat untuk menyelesaikan sebuah perekerajaan. Goyong royong sudah dikenal masyarakat lereng gunung merapi sejak dulu nenek moyang, ini merupakan sebuah budaya yang dibangun dari jaman ke jaman untuk lebih menjaga kerukunan dalam bermasyarakatan. Dalam kegiatan ini masayrakat tidak diberi upah sama sekali. Mereka iklas tanpa pamrih dalam menjalankan budaya tersebut. Kegiatan ini dapat berbentuk bersih-bersih jalan, selokan, membangun jalan, membangun atap rumah dan bangunan-bangunan lainya. Dalam kegiatan ini masyarakat bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut. Mereka akan diberi upah makan dan minum saja, semua hal seperti itu telah berjalan lama tidak ada pamrih didalam menjalankan kegiatan tersebut.

Tantangan bagi generasi penerus bahwa setiap budaya-budaya akan tergerus oleh perkembangan jaman. Kita semua paham bahwa saat ini dunia yang berkuasa adalah paham kapitalisme. Dimana faham kapitalisme tersebut akan berpengaruh menghilangkan budaya-budaya masyarakat, dan tidak luput yaitu budaya masyarakat lereng merapi. Dalam hal tersebut gotong royong merupakan budaya masyarakat lereng gunung merapi yang sangatlah perlu dilestarikan bersama sebab dalam budaya tersebut terdapat nilai-nilai kebrsaam yang kuat dan tidak terpaku dalam upah maupun gaji, hanya ada pekerjaan dan kebersamaan.  Kehidupan sehari-hari kita semua akan faham bahwa manusia sejatinya tidak dapat hidup sendiri mereka perlu bantuan dari orang lain. Sesuai pendapantanya aries to teles berpendapat bahwa manusia adalah zoon politicon,  manusia tidak bisa hidup sendiri, manusia perlu bantuan dari orang lain. Manusia harus hidup saling berdampingan dan saling bahu membahu.

Kita akan melihat didalam lingkungan kehidupan petani desa lereng gunung merapi, bahwa bahu embahu dan saling tolong menolong sangatlah terlihat di dalam lingkungan masyarakat. Kita sendiri akan merasakan ketika kita saling bahu membahu dan tolong menolong dalam kehidupan sehari-hari maka beban kehidupan akan terasa lebih ringan. Apalagi dalam tolong menolong tidak ada dan tidak mengharapkan adanya upah atau gaji. Ini juga akan lebih meringankan khususnya bagi masyarakat kalangan bawah. Kita perlu sadari bahwa dalam kehidupan ini tidak ada yang dapat jaya dan makmur tana bantuan orang lain, kita semua akan sangat membutuhkan orang lain dimanapun berada. Keberadaan orang lain dilingkungan kita menunjuka kita sebagai manusia yang tidak dapat hidup sendiri.

Petani desa lereng gunung merapi akan menjadi mallbudaya bagi masyarakat didaerah lainya apabial akan mampu mempertahankan budaya yang ada hingga kemajuan dan kejayaan bersama terwujud. Tetapi gotong royong kini telah mulai pudar dalam kehidupan petani lereng gunung merapi. Sebab virus-virus kapitalisme telah masuk ke pedasan-pedesaan bahkan di desa lereng gunung merapi. Menjadi hal yang sangat miris ketika kita melihat kebersamaan yang dibangun hanya tingggal kenangan yang ada. Fenomena ini menjadi tantangan dan PR bagi gererasi-generasi penerus petani.

“beban akan lebih ringan ketika dipikul bersama-sama”  

Nur Sofyan
Magelang, 10-2-2018

Komentar

TERBAIK

Mahasiswa KKN UNS Hidupkan Semangat Literasi di Desa Sengi Melalui Program Membaca dan Proyek Kreatif

    Dukun, Magelang – Semangat literasi kembali bergema di Desa Sengi berkat rangkaian program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS). Selama pertengahan Juli hingga awal Agustus 2025, para mahasiswa melaksanakan sejumlah kegiatan inovatif yang dirancang untuk menumbuhkan minat baca dan kreativitas anak-anak, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Program pertama, “Bacakan Saya Buku (Read Me A Book)” , berlangsung di Taman Baca Masyarakat (TBM) Omah Moco  Desa Sengi sejak 16–23 Juli 2025. Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN membacakan buku cerita dengan ekspresi menarik dan mengajak anak-anak berdiskusi. Suasana penuh antusiasme tampak ketika anak-anak menyimak kisah demi kisah, yang diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.   Selanjutnya, pada 21–24 Juli 2025, mahasiswa melaksanakan program “Membaca Nyaring”  di SDN Sengi 2. Kegiatan ini memiliki konsep serupa, namun difokuskan pada lingkungan sekolah. Anak-a...

GALERI

Dokumentasi kegiatan-kegiatan                                  

Wisataku ke Gembira Loka dan Sindu Kusuma Edupark JOGJA

  Oleh:  Fauzul ( siswa kelas 5 SDITQ AL IKHLASH)      Hai teman - teman,... perkenalkan nama ku Fauzul, umurku 11 tahun,  aku dari SDITQ AL IKHLASH. Di sini aku ingin bercerita tentang pengalaman wisataku bersama teman kelas 5, kelas 6 dan para guru SD ITQ AL - IKHLASH.      Kami berangkat hari  Rabu , tanggal 14 Desember 2022. berangkat pagi pukul 06:00 dari Tlatar, Sawangan, Magelang. Tujuan pertama kami adalah Kebun Binatang Gembira Loka. Jarak antara Magelang dan Kota Yogyakarta sekitar 44 km maka kami harus menempuh perjalanan itu selama 2jam setengah naik Bus. Saat diperjalanan berangkat aku dan teman - temanku mengobrol sambil makan camilan yang kami bawa, untuk menghilangkan bosan kami juga sambil bermain. singkat waktu 2 jam kemudian, kami sampai di Kebun Binatang Gembira Loka pukul 08:15. Kebun Binatang Gembira Loka buka jam 09.00 maka kami harus menunggu setengah jam hingga akhirnya sudah dibuka, kami langsung baris untuk maj...